Filosofi Iqra’ dan Qalam

Al-Qur’an ketika mula pertama diturunkan, telah menegur akan kekeliruan yang dilakukan manusia. Selama itu, di era kejahilan (zaman Jahiliyah) Tuhan-tuhan diciptakan dan disembah sebagaimana berhala. Manusia menyembah patung yang  diciptakan sendiri, atau pohon‑pohon, gunung, gua yang angker, sungai, danau, laut, bulan, matahari, dan benda‑benda yang pada hakikatnya diciptakan dan ditundukkan untuk manusia.

Masyarakat tersentak ketika muncul suatu informasi yang sangat bertentangan dan menunjukkan kekeliruan keyakinan mereka. Bahwa “diri mereka” sendiri diciptakan secara ber­proses dari segumpal darah kemudian diciptakan menjadi manusia, lahir ke dunia. Mereka diperintahkan untuk belajar, mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan membaca, mencoba, memperhatikan, menyelidiki dan merumuskan suatu teori. Kesemuanya itu hendaklah dilakukan dengan berbasis iman, dengan menyebut nama Tuhan atau mengucap “bismi rabbika allazi khalaq” (membaca dan belajar dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan).

Tuhan mengajar manusia apa yang belum diketahuinya. Allah ciptakan bagi manusia pendengaran, penglihatan, dan hati agar dapat memahami apa yang Allah ajarkan, baik yang Allah turunkan melalui wahyu‑Nya maupun yang Allah turunkan melalui fenomena alam ini, sebagaimana Allah jelaskan dalam firman­-Nya :

وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ (78)

أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا اللهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُوْنَ (79) سورة النحل

Artinya:      (1)   Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan

(2)   Dia lelah menciptakan manusia dari segumpal darah

(3)   Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah

(4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam.

(5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mengetahuinya. ” (QS. al‑’Alaq (96) . 1‑5).

Makna asal  “qalam” adalah pena, sebagai lambang alat tulis. Pena menghasilkan tulisan, dan tulisan dapat dibaca oleh banyak manusia, sehingga melalui tulisan itu ilmu manusia berkembang pesat. Makna qalam pun terus berkembang, mulai dari alat tulis sederhana, sampai pada alat‑alat tulis modem, mesin tik, compografi, computer, internet, faksimili, sampai pada teknologi cetak jarak jauh.

Tuhan juga mengajar manusia (wa ‘allama Adama al‑asma‑a kullaha), yaitu mengajari Adam nama‑nama benda seluruhnya. Nama‑nama benda disini memiliki makna yang luas antara lain, bisa berarti ciri dan hukum sesuatu. Dengan demikian manusia berpotensi mengetahui rahasia alam raya.

Alam semesta ini sebagai kosmos yang berarti “serasi, harmonis”.  Dalam bahasa Arab “alam” adalah satu akar kata dengan ilmu (ilmu pengetahuan) dan ‘alamah (alamat, pertanda). Disebut demikian karena adanya jagad raya adalah pertanda adanya Yang Maha Pencipta, yaitu Allah Yang Maha Esa. Karena itu sebagai pertanda adanya Allah, jagad raya disebut ayat­-ayat yang menjadi sumber pelajaran, ajaran dan tamsil bagi manusia. Salah satu pelajaran. dan ajaran yang diambil dari pengamatan terhadap alam semesta ialah keserasian, keharmonisan dan ketertiban.

Hakikat kosmos adalah teologis, yakni, penuh maksud. Memenuhi maksud Penciptanya, dan kosmos bersifat demikian adalah karena adanya rancangan (teknologi). Alam tidaklah diciptakan dengan sia-sia, atau secara main-main. Aam bukanlah hasil yang tercipta secara kebetulan, ada dengan tidak sengaja. Alam sengaja diciptakan oleh Allah dengan hukum yang sempurna.

Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Rasul Allah Muhammad SAW pun diperintahkan agar selalu berusaha menambah pengetahuan sebagaimana firman-Nya:

… وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًاز (طه :114)

Artinya:        “Dan katakanlah : “Ya tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan” (QS. Thaha (20): 114).

Setinggi apapun pengetahuan manusia, masih ada Yang lebih tinggi, yang lebih mengetahui, sebagaimana Allah firmankan:

… نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيْمٌ (يوسف : 76)

Artinya:      “Kami tinggikan derajad orang yang Kami kehendaki, dan diatas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui” (QS. Yusuf (12); 76).

Kita tidak boleh berhenti mencari ilmu, menurut Nabi kewajiban mencari ilmu dimulai dari bayi sampai akhir hayat. Kewajiban ini bukan hanya milik laki‑laki, tetapi juga bagi wanita. Hendaknya kita memupuk sikap atau naluri selalu haus akan pengetahuan. Rusulullah SAW bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ أَتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ. وَرَجُلٌ أَتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا. (متفق عليه)

Artinya: Tidak boleh iri, kecuali dalam dua hal, yaitu seseorang yang diberikan harta oleh Allah kemudian ia mempergunakan harta tersebut pada kebenaran, dan seseorang yang diberikan kearifan oleh Allah, ia mengambil keputusan berdasarkan kearifannya tersebut serta mengajarkannya kepada orang lain (HR Disepakati Bukhari dan Muslim).

Di dalam Al‑Qur’an banyak kisah yang melukiskan pentingnya selalu menarnbah ilmu dan wawasan. Para Nabi ketika akan diberi tugas kenabian, terlebih dahulu diajari Tuhan ilmu dan hikmah (lihat Nabi Adam dalam QS 2:3 1; Nabi Ibrahirn dalam QS 21:48‑51; Nabi Ishaq dalam QS 21:72; Nabi Luth dalam QS 21: 74; Nabi Daud dalam QS 21:80; Nabi Sulaiman dalam QS 21:79). Ingatlah ketika Nabi Musa merasakan dan bersyukur betapa besar ilmu pengetahuan yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya, sampai ia dapat berbicara langsung kepada‑Nya (QS: 164;7:143-144). Pada saat Nabi Musa merasa puas dengan ilmu yang telah diperolehnya, Tuhan segera menegur, adalah berbahaya, bila akan terhenti belajar karena merasa puas, maka Tuhan mengatakan kepada Nabi Musa, bahwa ia masih perlu belajar, masih perlu berguru kepada orang yang lebih tinggi ilmunya. Carilah guru, karena bagaimanapun tinggi ilmu yang telah diperolehnya, masih ada yang lebih tinggi lagi,  sehingga tidak berhenti belajar. Kisah ini dapat kita ambil intisarinya dari Al-Qur’an antara lain pada QS. 18:60-82.

Pelajaran yang dapat kita ambil dari informasi Al-Qur’an tersebut dapat menjadi pemicu bagi kita untuk terus mengembangkan ilmu dan teknologi setinggi-tingginya dan seluas-luasnya untuk kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia. Karena itu, laju teknologi memang tidak dapat dibendung. Hanya saja manusia arus berusaha mengarahkan diri agar tidak memperturutkan nafsunya untuk mengumpulkan harta, ilmu,  dan teknologi yang dapat membahayakan dirinya. Agar tidak menjadi seperti kepompong yang membahayakan dirinya sendiri.

Dalam dunia bangunan dan arsitektur umpamanya, banyak ayat Al-Qur’an yang melukiskan kediaman yang indah, nyaman sejuk di surga,  seperti yang dilukiskan bahwa surga itu mengalir sungai di bawahnya (lihat Qs. 3:198; QS. 9:72; 13:35; 32:19; 76:13-14; 77:41-42) dan lain-lain.

Al-Qur’an juga melukiskan bangunan istana Sulaiman yang telah mengecuh dan menjatuhkan martabat Ratu Bilqis, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

قِيْلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (النمل : 44)

Artinya :     “Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana”. Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”. Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri (Islam) bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam­ (QS. An‑Naml (27) : 44).

Deskripsi bangunan‑bangunan ideal di tengah suatu lingkungan alamiah yang dilukiskan Al‑Qur’an tersebut telah merangsang model‑model arsitektural pada era Islam masa lampau sampai sekarang. Di dunia Islam telah dihasilkan arsitektural yang sangat menakjubkan seperti Al‑Hambra di Granada, keindahan yang massif masjid Kordova dan Sevilla, Madinah al‑Zahra di dekat Kordova, Kubah batu Yerussalem, masjid Istambul, masjid Ibnu Thulun di Kairo dan Tajmahal di Agra. Juga tak kalah indahnya bangunan Masjid Nabawi, Masjid al‑Haram dan masjid‑masjid di seluruh dunia yang tak terhingga banyaknya. Dimotivasi oleh gambaran yang dilukiskan Al‑Qur’an itu, maka banyak dibangun istana-istana, benteng-benteng, masjid-masjid di Spanyol, Afrika Utara, India, Turkistan, Iran, Indonesia dan di negara-negara muslim lainnya.

Di bidang teknologi antariksa,  yaitu ilmu teknik dalam arti luas yang bertujuan memperoleh manfaat dari penempatan peralatan, dan kesanggupan manusia untuk mengarungi dan bertempat tinggal di antariksa juga sangat mungkin memberi dorongan kepada manusia untuk menciptakan teknologi di bidang ini. Berbagai upaya dimotivasi oleh keharusan yang memaksa manusia untuk selalu menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru, yang semula makhluk penghuni pohon, hutan, dan gua, setelah menguasai iptek danmenjadi umat yang modern, ia mampu membangun gedung yang tinggi dan indah dengan peralatan yang serba canggih. Ada lagi keinginan yang maju yaitu antara lain ingin menghuni antariksa dengan mengembangkan aerodinamika,  teknik, penerbangan antariksa dan seterusnya. Al-Qur’an dalam hal ini menjelaskan sebagaimana tertera dalam firman-Nya:

يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانْفُذُوْا لاَ تَنْفُذُوْنَ إِلاَّ بِسُلْطَانٍ (الرحمن : 33)

Artinya:      “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan” (QS. Ar-Rahman (55):33).

Dalam kaitan ini, secara sederhana peran umat Islam sekarang ini adalah mengintegrasikan Islam dan iptek dalam proses pembentukan manusia yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan, sehingga peran aktif umat Islam “amar ma’ruf nahi munkar”, dapat dilaksanakan bagi kenyamanan hidup umat manusia. Untuk mencapai tujuan itu perlu senantiasa diciptakan keadaan yang stabil dan seimbang antara iman dan ilmu, antara proses‑proses mempertajam pikiran, memperluas wawasan, pandangan, serta pengejawantahannya dalam bentuk teknologi yang tepat dan berguna dengan mempertajam hati nurani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: